Rabu, 26 September 2018

Untuk Kamu




Teruntuk kamu penikmat langit fajar.
Kamu hebat. Itu yang terlintas di pikiranku.
Menikmati langit fajar di kala orang-orang masih terlelap.
Memulai hari ketika orang-orang masih berselimut mimpi.
Kamu mengagumkan.

Teruntuk kamu penikmat langit ketika ia putih bersih.
Aku kagum. Kamu menangkap hal kecil menjadi sesuatu yang mempesona.
Aku heran. Kamu mengubah langit yang biasa menjadi sesuatu yang sangat menawan.
Kamu mengagumkan.

Teruntuk kamu penikmat langit senja.
Kamu orang yang sangat sabar. Menunggu sesuatu yang hanya datang sebentar.
Tapi, kamu punya caramu sendiri untuk menikmatinya.
Kamu benar. Senja memang selalu mempesona. Tapi, hati-hatilah. Ada kewajiban yang harus kamu tunaikan setelah senja datang.

Teruntuk kamu penikmat langit malam.
Aku hanya mengira, mungkin kesendirian menjadi kebahagiaanmu sendiri.
Mungkin keheningan lebih baik untukmu daripada sebuah hiruk pikuk yang menganggu.
Tenang saja. Kamu tak sendiri.


Dan teruntuk kamu yang selalu bersujud ketika orang-orang terlelap.
Untuk kamu yang selalu menangis memohon ampun pada Tuhanmu
Untuk kamu yang tak pernah menyalahkan takdir
Untuk kamu yang tak lelah berdoa dan selalu yakin akan ada jawaban atas semua pertanyaan.
Semoga kamu menemukan sebuah kebahagiaan yang hakiki.
Tidak. Kamu sudah menemukannya kupikir.
Tidak terlena atas dunia fana ini
Tapi tidak mengabaikan dunia fana ini.
Selamat.

Selamat untuk kamu.

-Hikari-

Jumat, 14 September 2018

Rindu



Kata orang, rindu itu toksik. Racun yang setiap saat bisa menggerogoti siapapun. Menyiksa dengan sangat. Tak kenal waktu maupun tempat.

Kata orang, rindu itu seperti zat adiktif. Membuat ketergantungan dan tak bisa lepas darinya.

Kataku, rindu itu seperti senja. Indah. Menawan. Tapi, selalu mengingatkan tentang hal dan orang-orang yang tak ada bersamaku saat ini.

Katamu, rindu itu seperti arak arakan awan yang tak berkesudahan. Ada kalanya tenang, namun ada kalanya seperti badai.

Ah, rindu. Kata orang. Kataku. Katamu. Semuanya satu. Kamu melenakan.

Rindu. Maka, bersama langit senja ini. Kusampaikan rindu in pada warna biru dan orange senja. Kusampaikan rindu ini dalam sujud setiap malam. Kusampaikan rindu ini pada Sang Pencipta. Semoga rindu ini tersampaikan.


-Hikari-
📷HNP

Jumat, 24 Agustus 2018

Langit Senja




Jalan di sepanjang koridor itu mulai sepi. Tak banyak lagi orang yang berlalu lalang. Hanya keheningan yang mulai datang mencekam. Ditambah langit senja yang mulai berganti malam. Tak ada suara adzan yang bergema. Meskipun waktu sholat telah datang.

Seorang anak manusia berjalan dengan lesu. Harinya sepertinya buruk. Ia butuh waktu untuk menyendiri. Ia butuh becerita pada Tuhannya tentang apa yang ia lalui selama ini.


Hingga, saat ia melalui koridor itu, ia tersadar. Bukankah sudah berkali-kali ia berjalan di koridor ini pada jam ini. Kenapa ia tak menyadari, ada pemandangan sangat bagus telah disajikan di hadapannya.

Dia berhenti sejenak. Ia keluarkan kamera selfphone nya. Berusaha untuk mengambil momen sebisanya. Setelah itu. Ia terdiam. Jangan-jangan ada banyak hal yang ia lewatkan selama ini. Keindahan yang telah tersaji di hadapannya ternyata ia tak sadari. Sama seperti langit senja ini.

Langkahnya mulai berjalan kembali. Menuju suatu tempat di pojokan koridor. Tempat yang diubah untuk bersujud sedalam-dalamnya. Hari itu, ia tumpahkan semua perasaanya. Ia sadar, betapa sombong dirinya selama ini. Betapa ia selalu iri dan jarang bersyukur atas apa yang telah diberikan. Betapa ia selalu mengkhawatirkan hal yang telah pasti ditetapkan untuknya tapi tak mengkhawatirkan hal yang belum pasti diperolehnya. Ah, ia sadar. Ia manusia penuh dosa.

Merindukan langit senja, tapi tak pernah mau menunggunya. Merindukan langit senja tapi tak pernah menyadari perjuangan dan keindahannya.

Langit senja. Sekali lagi, dia harus berterima kasih padanya atas tegurannya ini.


-Hikari-

Selasa, 21 Agustus 2018

Mungkinkah?



Dan sekiranya laut ini bisa berbicara. Mungkinkah ia mau menyapa pada seorang anak yang mulai tak yakin pada dirinya? Mungkinkah ia mau bertanya kabar pada seorang yang selalu merasa rendah diri?Ah, tak bijak rasanya seperti itu. Laut tak pernah seegois itu.

Dan sekiranya langit biru ini mampu bercanda gurau. Mungkinkah ia juga mau bercanda dengan penyendiri yang tak suka keramaian? Seorang yang tak mampu mengungkapkan apa yang ia pikirkan secara langsung. Ah, tak pantas rasanya bertanya demikian. Bukankah langit biru juga lebih menyukai ketenangan daripada hiruk pikuk dunia ini.


-Hikari-

Kamis, 02 Agustus 2018

Sudut Pandang



Senja mulai datang menyapa bersama dengan angin semilir musim kemarau. Seiring dengan suhu udara yang mulai kian meninggi. Seolah, sedang marah karena kemarau selalu dikeluhkan ketika ia datang. Seorang gadis kecil. Berdiri di sebuah jembatan tua yang menjadi saksi, ada banyak anak muda yang menuntut ilmu demi masa depannya. Raut matanya menatap sendu langit. Yang entah kemapa hari itu berwarna putih bergerombol. Tak sama seperti biasanya.

"Apa yang kamu lakukan di sini?". Seorang gadis kecil lain datang.
"Aku? Menatap langit yang sepertinya berbeda dengan biasanya."
"Tapi bukan cuma itu kan? Ada hal yang kamu pikirkan?"

Diam mulai menyapa sejenak.
"Apa kamu pernah merasa bahwa dirimu ini seperti tak ada artinya untuk orang lain?"
"Pernah. Tentu saja pernah. Merasa tak dibutuhkan, merasa selalu merepotkan orang lain, apa ya bahasanya. Seperti invisible mungkin."
" Lalu, apa yang kamu lakukan?"
"Merubah sudut pandang."
" Caranya?"
" Entah apapun yang kamu rasakan, satu fakta yang jelas dan tak terbantahkan adalah kamu manusia yang sekarang ini sedang hidup. Setiap makhluk hidup bukankah selalu ada alasannya untuk hidup? Mungkin sekarang ini kamu merasa tak berguna, merepotkan orang lain. Tapi, yakinlah, suatu saat kamu akan memberikan apa yang orang lain butuhkan. Pada saatnya, kamu yang akan menolong orang lain."
" Itu sulit bagiku untuk saat ini. Pernahkah kamu merasa ujian datang tak berhenti? Segala apa yang kamu usahakan seperti tak ada hasilnya?"
" Pernah. Tentu saja pernah. Tak mungkin aku tak pernah merasakan itu. Tapi, bagaimana kalau itu adalah hal yang baik untuk kita?"
"Maksudmu?"
" Ujian yang datang padamu menandakan kamu layak untuk diuji. Kamu punya kemampuan untuk melaluinya. Hasil yang tak seperti apa yang kamu harapkan itu berarti kamu diminta untuk lebih bersabar. Kamu diminta untuk lebih bergantung pada Sang Maha Berkehendak. Mungkin kamu bisa introspeksi diri, berapa kali dalam sehari kamu meminta agar diberikan hasil yang baik "
" Tapi, apa yang kamu lakukan jika bahkan dirimu saja tak yakin bisa melaluinya?"
" Kamu percaya takdir kan? Kamu percaya Kuasa Allaah kan? Dan apakah kamu setega itu memandang dirimu sendiri tak mampu? Lantas, ketika kamu sendiri tak yakin pada dirimu sendiri, bagaimana orang lain akan yakin terhadapmu?"
" Kamu benar. Ini sulit."
" Kamu lihat langit itu? Kita terbiasa menatap langit dari bawah. Tapi, coba rubah sudut pandang. Kita duduk di hamparan langit tebal berwarna putih. Sementara gedung-gedung yang kita lihat sekarang adalah benda yang ada di atas langit. Hidupmu mungkin memang susah, hingga kamu sendiri tak yakin. Tapi, coba rubah sudut pandangmu. Ada Allaah yang senantiasa Melihatmu. Dia tak akan membiarkanmu sendiri. Perhatikan sekitarmu ada orang-orang yang senantiasa mendukungmu. Mungkin saja kamu tak menyadarinya."

Diam. Hening. Jawaban ini seolah menusuk pada hati yang telah lama lalai.

"Boleh aku berpesan? Jika hatimu gundah, gelar sajadaahmu. Bersujudlah. Seolah-olah ini adalah sujud terakhirmu. Mengadulah pada Sang Maha Mendengar. Memintalah dengan menyebut nama-nama terbaiknya. Maka semoga kamu mendapatkan hal yang terbaik."

Langit putih itu perlahan mulai berubah. Siluet senja mulai menggatikan tempatnya. Ah, bahkan hal seperti ini lalai untuk disyukuri. Bagaimana mungkin, mengeluh untuk hal yang memang baik untuk kita?


-Hikari-
Inspired by : AEF
📷HNP

Minggu, 08 Juli 2018

Sayonara


Seperti bunga matahari yang hanya bisa tumbuh dan mekar pada musimnya. Maka, episode kehidupan ini harus berjalan menuju episode selanjutnya.

Seperti bunga matahari yang tumbuh menghadap matahari, maka cerita ini semoga terus maju menuju cerita yang lebih baik.

"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku? Mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu. "

"Sudah bisakah kau memaafkan dirimu sendiri, dia, dan keadaan?"

"Sedang kucoba sekarang. Aku tidak ingin pergi dengan membawa rasa marah dan penyesalan. Aku hanya ingin melanjutkan kehidupanku kembali."

"Apa kau masih merasa sakit untuk kembali duduk di kursi tua itu?"

"Sedikit, tapi aku mungkin butuh waktu lama untuk kembali ke sana. Ada banyak tempat yang harus kukunjungi. Dan aku harus berdamai dengan waktu"

"Jadi, kau sudah mengucapkan selamat tinggal pada kursi tua?"

"Ya. Selamat tinggal pada kursi tua. Selamat tinggal pada kenangan yang menyakitkan. Selamat tinggal pada kemarahan yang membuatmu buta pada kenyataan. Selamat tinggal  pada janji yang semu. Dan selamat datang pada masa depan."

Dan selebihnya, biarkan ia menikmati detik demi detik bersama bunga matahari yang sedang bermekaran di sudut utara kota yang penuh kenangan


-Hikari-
📷ALD

Rabu, 04 Juli 2018

Tentang Memaafkan



Ada kalanya, ketika hidup tak lagi menyenangkan.
Ada kalanya, ketika dunia begitu lucu mempermainkan manusia.
Ada kalanya, ketika matahari terasa begitu menyengat
Dan, ada kalanya, ketika hati tak mau lagi sekedar memaafkan.

Tapi, hidup memanglah tak selalu menyenangkan
Bagaimana mungkin, mengharapkan laut tanpa ombak
Hidup memang terkadang lucu
Toh, ini hanya suatu tempat pemberhentian sementara
Tak mungkin monoton bukan

Matahari memang ada untuk menghangatkan
Pun, ketika menyengat, ia hanya ingin mengingatkan
Betapa kecil dan tak berdaya manusia itu

Dan, hati.
Ah, dia memang misterius bukan
Memaafkan butuh hati yang lapang
Bukan hati yang dipenuhi kekecewaan
Bukan hati yang dipenuhi penyesalan

Memaafkan.
Memaafkan diri sendiri
Memaafkan orang lain
Tanpa penyesalan
Tanpa kekecewaan
Maka, tak kan lagi ada ketakutan hanya untuk sekedar berbicara pada dunia

-Hikari-
📷AEF