Rabu, 04 Juli 2018

Tentang Memaafkan



Ada kalanya, ketika hidup tak lagi menyenangkan.
Ada kalanya, ketika dunia begitu lucu mempermainkan manusia.
Ada kalanya, ketika matahari terasa begitu menyengat
Dan, ada kalanya, ketika hati tak mau lagi sekedar memaafkan.

Tapi, hidup memanglah tak selalu menyenangkan
Bagaimana mungkin, mengharapkan laut tanpa ombak
Hidup memang terkadang lucu
Toh, ini hanya suatu tempat pemberhentian sementara
Tak mungkin monoton bukan

Matahari memang ada untuk menghangatkan
Pun, ketika menyengat, ia hanya ingin mengingatkan
Betapa kecil dan tak berdaya manusia itu

Dan, hati.
Ah, dia memang misterius bukan
Memaafkan butuh hati yang lapang
Bukan hati yang dipenuhi kekecewaan
Bukan hati yang dipenuhi penyesalan

Memaafkan.
Memaafkan diri sendiri
Memaafkan orang lain
Tanpa penyesalan
Tanpa kekecewaan
Maka, tak kan lagi ada ketakutan hanya untuk sekedar berbicara pada dunia

-Hikari-
📷AEF

Senin, 02 Juli 2018

Jendela



Malam telah berakhir. Siluet sang surya mulai menampakkan diri. Seolah berkata," Hai anak manusia, kapan kalian memulai hari kalian?"

Siluet itu juga yang menembus jendela tua di sudut kamar. Memperlihatkan betapa langit mengayomi segala apa yang ada di dalamnya.

Seorang anak manusia mulai terbangun dari mimpinya. Beberapa hari ini tidurnya tak lagi nyenyak. Banyak tangisan yang menghantui, pun dengan semua pikiran yang entah ia buat sendiri.

"Hari apa? Ah, hari Ahad. "

Ia memandang keluar jendela. Di luar sana waktu seakan berputar lebih cepat. Tak banyak orang yang bermalas-malasan seperti yang ia lakukan.

"Hei jendela. Maafkan aku, apa kamu mulai jenuh melihatku seperti ini? Maafkan aku yang belum bisa pulih sepenuhnya. Nanti, akan kubuka kau dan kau bisa bercengkrama lagi dengan langit sebebas yang biasa kau lakukan. Untuk saat ini, bantu aku bersembunyi dari langit. Aku sedang tak ingin bertemu dengannya."

Dan hari-hari itu kembali dilalui dengan jendela yang selalu tertutup. Ada sebuah tembok besar yang bernama kekecewaan yang harus dihancurkan agar jendela itu kembali terbuka.


Ah, memang benar. Berharap pada manusia hanya akan memberimu kekecewaan. Itu yang ia ketahui, tapi ia belum bisa untuk tidak berharap pada manusia. Dan inilah hukuman baginya. Dan semoga waktu mau berbaik hati menyembuhkan. Hingga jendela itu kembali terbuka dengan lebar.


-Hikari-
📷AEF

Sabtu, 30 Juni 2018

Kursi tua


Sore yang mendung. Angin musim penghujan mulai menyapa kembali setelah pergi selama beberapa bulan. Kuputuskan untuk duduk kembali pada jejeran kursi itu. Kursi tua yang entah sejak kapan telah ada di sana. Menjadi saksi perbincangan banyak anak manusia. Meskipun ia juga berbicara dengan pohon tinggi menjulang yang ada di depannya.

"Sudah lama aku tak melihatmu duduk di sini?". Aku terkejut. Oh, dia datang.
"Iya, ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan dulu." Jawabku sekenanya.

Diam kemudian mulai menyeruak. Aku tak tahu apa yang harus kami bicarakan. Pertemuan dengan sahabat lama ternyata lebih membingungkan daripada soal intergral tak tentu.

"Kapan kamu berangkat?" Dia yang mulai memecah keheningan.
" Tiga hari lagi. InsyaAllaah, ketika semua urusan in selesai." 
" Apa yang kamu pikirkan sekarang?" Tanyanya kembali.
" Maksudmu?" Aku heran.
"Aku tahu, ada sesuatu yang masih mengganjal pikiranmu. Aku tahu, ada sesuatu yang masih menahanmu untuk meninggalkan tempat ini. Benar kan?"

Aku mulai mengerti. Dan aku mulai kesal. Kenapa dia selalu dengan tepat menebak semua pikiranku.
"Kamu benar. Aku masih mempunyai hal yang mengganjal. Kamu tahu bukan, meninggalkan suatu tempat yang telah lama menyimpan semua hal yang telah kamu alami itu tak mudah."
" Maksudmu tempat atau orang-orang yang di dalamnya?"
" Menurutmu?" Aku bertanya kembali.
" Dengar. Kamu tidak bisa melupakan orang-orang yang pernah ada dalam hidupmu. Dan kamu tak akan pernah bisa. Jadi, jangan membuang energimu untuk itu. Tapi, kamu juga harus tahu. Tak selamanya orang-orang yang bersamamu sekarang akan selalu ada untukmu. Jalan takdir bagi setiap orang itu berbeda. Jadi, jangan pernah merasa sedih ketika ada seseorang yang pergi dari hidupmu. Pun, ketika kamu harus meninggalkan mereka."

Kata-katamu selalu benar. Tepat. Menohok.

" Orang-orang akan selalu datang dan pergi dari hidupmu. Itu pasti. Tak akan pernah berhenti sampai kau kehabisan waktumu di dunia ini. Tapi, mereka datang dan pergi bukan tanpa alasan. Kamu diminta untuk belajar dari mereka. Belajar menerima pertemuan. Belajar menerima perpisahan. Belajar menerima kebahagiaan. Pun belajar menerima kesedihan."lanjutnya.

" Jadi, kuminta, jangan biarkan kenangan apapun itu mulai menyakiti impian dan juga hatimu. Tak ada yang bisa menjaga mereka selain dirimu sendiri dan juga Allaah."


Kemudian diam kembali menyeruak. Ingin sekali kukatakan, salah satu orang yang tak bisa kutinggalkan ada di sini. Tapi, suara itu tertahan. Baiklah. Memang sudah saatnya aku pergi. Dan memang, semuanya tak akan baik baik saja ketika aku tak pergi dari sini. Selamat tinggal kursi tua yang selalu jadi saksi bisu. Terimakasih atas waktumu selama ini. 


-Hikari-

Rabu, 06 Juni 2018

Rindu tak bertuan



Riuh rerumputan pada padang sabana nan luas. Mengisyaratkan ada banyak dialog alam tercipta di sana. Tak berhenti. Saling menyapa.  Angin pun turut serta.  Membuat riuh semakin menjadi.

Di sana seorang anak manusia berdiri tegak. Matanya tak lepas memandang bagaimana alam berinteraksi. Telinganya selalu mendengar bagaimana riuh alam bersenda gurau.

Namun, hatinya tak lagi sepenuhnya di sana. Ia terbang menuju tempat nan jauh. Suatu tempat di mana semuanya bermulai baginya. Ah, jadi ini yang namanya rindu tak bertuan.

Kata orang-orang," Missing someone makes you hard to fall asleep at night."
Perkara ini tak sesederhana kalimat itu. Ada rindu yang harus selalu dipendam. Hingga, tanpa sadar imajinasi mulai mengambil alih dunia mimpi. Ada rindu yang harus diungkapkan dalam setiap doa.
Agar ia seperti anak panah yang melesat tepat pada tujuan.

Di padang sabana itu, ia mengabadikan kenangannya sendiri. Kesendirian, kekecewaan, kerinduan, semuanya ia kumpulkan sendiri. Biarlah ini menjadi ceritanya dengan alam yang mau berbaik hati mendengarkan. Memberikan tempat untuk sekedar memahami apa artinya rindu tak bertuan.

-Hikari-
📷AEF

Sabtu, 19 Mei 2018

Ramadhan di Tanah Orang

17 Mei 2018

Hari pertama bulan ramadhan di tahun ini. Banyak hal berbeda di bulan ramadhan kali ini. Ini adalah kali pertama bagiku melewatkan ramadhan di tanah orang. Jauh dari keluarga dan dengan kondisi Islam sebagai agama minoritas.

Mulai dari sholat tarawih yang tak bisa dilakukan di masjid. Karena jarak yang cukup jauh. Aku sendiri sholat tarawih di aula kampus bersama mahasiswa muslim lainnya. Tapi, Alhamdulillaah. Ada banyak mahasiswa muslim di sini.

Sahur pertama di bulan ramadhan tanpa masakan ibu. Kalau dulu sahur dan berbuka selalu bersama masakan ibu yang bagiku masakan paling enak. Tapi, sekarang dengan menu seadanya. Yang jelas bisa memenuhi energi untuk puasa.

Tapi, di saat seperti ini pula, kita akan menyadari. Ah, betapa banyak nikmat yang selama ini terlupa. Betapa banyak kesempatan kita untuk beribadah yang terbuang di bulan ramadhan tahun sebelumnya. Ah, Allaah. Tolong hamba untuk bisa melalui ramadhan kali ini dengan sebaik-baiknya.

Sabtu, 05 Mei 2018

Sajak Sajak tak beraturan

Sajak sajak tak beraturan itu mulai merenda dirinya sendiri
Di tengah hiruk pikuk kota
Di tengah keriuhan dunia
Di tengah proses hilangnya keheningan


Sajak sajak tak beraturan itu mulai bermunculan
Di tengah kegundahan hati tak berkesudahan
Di tengah kekhawatiran yang semakin melonjak
Di tengah hilangnya kendali atas nama hati

Sajak sajak tak beraturan itu mulai menghantui
Pada hati yang tak lagi percaya
Pada hati yang terluka semakin dalam
Pada hati yang tak tahu bahwa dirinya sakit

Tapi sajak sajak tak beraturan itu harus ada
Untuk dirangkai kembali menjadi sebuah prosa kehidupan

-hikari-

Jumat, 02 Februari 2018

Angin kedua




Aku diam. Kamu diam. Kata seolah terserap dalam pikiran kita. Tak ada yang ingin keluar. Detik demi detik meluncur dengan cepat. Hanya pertanyaan yang berputar dalam pikiranku.

" Apa kabar?" Kau mulai memecah keheningan itu.

" Baik, bagaimana denganmu?"

" Seperti biasa. Hidup terkadang tak menarik. Tapi hidup juga menarik untuk diselidiki."

Ah, kau selalu seperti itu. Membuat kalimat dengan banyak makna di dalamnya. Dan aku harus selalu berpikir ulang apa maknanya.

" Bagaimana dengan hidupmu?"

" Seperti biasa. Hanya seorang anak manusia yang berusaha menjalani hidupnya." Kujawab dengan sekenaku.

" Apa yang kamu lakukan sekarang?" Kamu mulai bertanya lagi.

" Aku? Menyelesaikan kuliahku?"

" Haha.. Selain itu? Kupikir kamu akan mencoba sesuatu yang baru di hidupmu. Untuk membuat hidupmu menjadi tak biasa."

" Tidak. Aku tidak seberani itu. Aku masih terkekang oleh ketakutanku sendiri. Tapi, perlahan kupikir aku ingin mengatasinya sendiri. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah mendapatkan makna dari perjalananmu?"

" Belum sepenuhnya. Ada sesuatu yang hilang dari perjalananku. Jadi, kupikir aku harus mencarinya terlebih dahulu. Sebelum aku memutuskan untuk melanjutkan perjalananku."

" Sesuatu yang hilang? Apa itu?"

" Kamu tak perlu tahu. Aku hanya perlu memastikannya sekarang. Aku boleh bertanya satu hal?"

"Apa? "

" Apa yang kamu pikirkan tentang hal yang kuutarakan masih sama dengan tiga tahun lalu?"
Tepat. Pertanyaan itu sudah kuantisipasi akan keluar. Tapi, aku tak pernah tahu bagaimana menjawabnya. Betapa pencundangnya diriku.

" Hmm. Pohon yang selalu berbuah sepanjang tahun tak akan pernah menghasilkan buah yang sama. Akan tetapi, esensi dari dirinya masih akan tetap sama. Hujan yang datang mengguyur bumi tak akan pernah sama setiap tahunnya. Tapi, orang-orang akan tetap memanggilnya hujan. Mungkin keadaannya berbeda. Akan tetapi, aku masih mempunyai jawaban yang jelas tentang hal itu. Dan aku harus minta maaf kepadamu. Jawabanku masih tetap sama."

Hening. Diam kembali menjerat suasana ini. Ini jauh lebih mencekam dari sebelumnya.

" Aku tahu. Aku tahu kamu akan menjawab seperti itu. Haha. Aku sudah menduganya. Sama seperti bumi yang tak pernah menyalahkan langit karena mengutus hujan untuk menemuinya. Maka, aku menghargai apa yang sudah kamu putuskan. Aku tahu, tiga tahun bukanlah waktu yang singkat tapi juga bukan waktu yang cukup untuk mengubah prinsip hidup seseorang. Maka dengan segala hormat sebagai seorang teman aku menghargai keputusanmu."

" Terimakasih. Dan semoga seperti burung yang selalu kembali ke sarangnya, aku harap kamu tak akan tersesat di perjalananmu. Jangan mengkhawatirkan orang lain. Karena orang yang berada dalam perjalanan sesungguhnya sedang berusaha menembus labirin yang tak sederhana."

" Baik, terimakasih. Dan aku pamit. Sampai jumpa di puncak bukit selanjutnya. Dan semoga kamu mengijinkan angin ini untuk menyapamu kembali."

" Tentu. Terimakasih"

Dan, pergi sudah. Angin yang untuk kedua kalinya datang telah pergi. Membawa cerita tersendiri tentang pertemuan kedua ini. Dan di atas kursi panjang, di bawah pohon rambutan ini. Aku kembali meminta angin untuk pergi kedua kalinya. Membawa sebuah rasa bernama penyesalan.

-Hikari-