Senin, 09 September 2013

Jangan Salahkan Waktu



Jangan Salahkan Waktu

Siang yang terik, mentari seakan menumpahkan semua amarahnya. Sejenak aku bingung, apa yang harus kulakukan sekarang? Masih ada satu jam yang harus kumanfaatkan sebelum agenda yang lain.
Ehm, mungkin sedikit memutar kembali hari ini. Bukan, bukan hari ini, karena sekarang masih setengah hari. Hanya dimulai ketika aku mengantarkan adikku ke TK. Yah, ketika kulihat anak TK, pikiranku kembali pada masa lalu. Saat masih kanak-kanak, pikiranku masih polos. Terlebih di masa itu teknologi tak secanggih sekarang. Ketika itu, pikiranku selalu mengatakan “aku pasti bisa”. Optimis kalau bahasa orang dewasa. Menyiapkan barisan sebelum masuk kelas, selalu kulakukan setiap hari. Bahkan, hingga teman-temanku yang tak kebagian giliran menyiapkan menangis dan mengadukannya pada guruku.
Namun, kini pikiran itu mulai bergeser. Dulu selalu optimis, namun sekarang terlalu banyak hal yang bisa dijadikan alasan untuk menjadi pesimis. Mungkin, aku saja yang mencari-cari hal itu. Dulu selalu berani untuk berbicara secara lantang, namun sekarang kalau disuruh bicara aktif pasti agak “tremor”. Ehm, ada pertanyaan yang muncul. Apa menjadi orang dewasa itu membawa pikiran negatif?
Flashback berlanjut saat berangkat ke kampus, ada yang harus kubawa, sebilah kayu yang menjadi pembeda kelompokku. Kubungkus kayu itu dengan kertas koran. Aku sempat berpikir, kayu ini membuatku sedikit malu. Padahal dulu ketika anak-anak, membawa beras katul (makanan bebek) sambil bersepeda onthel pun tak jadi masalah. kenapa sekarang jadi seperti ini?
Akhirnya sampai di kampus. Lagi-lagi terjadi perang batin. Aku mau sholat dhuha dulu atau nanti setelah kelas kuliah selesai? Pertama, kuputuskan kakiku melangkah ke kelas. Ternyata di sana masih dipakai oleh kelas sebelumnya. Langsung seketika itu, aku putar balik menuju musholla. Kenapa tadi harus galau? Allah yang memberimu kesempatan untuk kuliah di kampus ini. Jadi kenapa kamu harus bingung memilih? Astagfirullaah.
Selesai sholat, kulangkahkan kakiku menuju kelas. Bismillaah. Kali ini lebih baik dan lebih tertata hatiku. Dan ternyata, hari ini dosen yang mengampu sedang pergi sehingga digantikan, dan isinya adalah perkenalan. Dan aku sempat berpikir, semoga waktu ini tak terbuang sia-sia.
Lantas terdampar di taman tengah ini. Sehabis Dzuhur. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Dan akhirnya muncullah tulisan ini.
Teringat perkataan salah seoramg teman, ketika ia kutanya kenapa semua orang berubah, apa karena waktu? Ia menjawab,” Jangan salahkan waktu, karena waktu tak bersalah. Yang membuat perubahan itu baik atau buruk adalah manusia sendiri.”. Yah masalah aku menjadi penakut, pesimistis, bimbang itu adalah pilihanku sendiri. Dan semuanya tergantung pada manusia bagaiman menyikapinya. Meski terkadang, aku sempat menyesali tentang keputusan yang kupilih. Tapi, aku harus bertanggungjawab terhadap hal itu.
Life is a choice. Everyone has a chance to choose the bad one or the good one
Don’t ever blame the time for all changes. Because you are the one who change something.




@taman tengah FMIPA UNY
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar