Rabu, 22 April 2015

Salah seorang teman pernah menceritakan apa yang dirasakannya dahulu. Ketika semua ideologinya, prinsipnya, hatinya, tak lagi bersahabat dengan yang namanya sistem dan keadaan. Biar aku ceritakan padamu, biar kita semua tahu bahwa ini memang keadaan yang tak akan kita bisa hindari.

"Ketika rasa jenuh, lelah mulai menerpa ku.
Aku mulai mempertanyakan.
Untuk apa aku di sini?
Kenapa aku harus melakukan semua ini?
kenapa aku harus menghabiskan waktuku untuk semua ini?
Sementara orang lain bisa dengan mudah bersenang-senang.
Kenapa aku harus berkorban perasaan ini?
Sementara orang lain bisa dengan bebas mengutarakan perasaanya.
Kenapa aku harus menahan semua kekecewaan ini?
Sementara orang lain bebas mengutarakan kekecewaannya?
Kenapa orang lain boleh mengatakan " aku lelah. Aku butuh istirahat. Aku jenuh. Aku butuh selingan."? Sementara aku harus tetap bertahan di atas semua itu.

Lalu, seakan semua kemarahan itu berkumpul menjadi satu. Semua kekecewaan, kelelahan, kejenuhan, kemarahan, rasa tak terima atas semua perlakuan dan keadaan. Hingga akhirnya apa? Bahkan hanya untuk bernapas saja terasa sulit. Aku tersenyum sementara hatiku menangis. Klise? Memang. Aku tertawa, sementara hatiku terasa sakit.

Hingga semua teori-teoriku tentang apa itu pemimpin, apa itu keluarga, apa itu yang namanya komitmen, apa itu yang namanya amanah hilang semua. Kurasakan aku tak lagi merasa apa itu namanya perasaan. Yang kulakukan hanyalah bekerja seperti sebuah robot. Ya, robot bukan manusia.
Kejadian itu berlangsung hingga beberapa waktu. Seolah tak pernah berhenti.

Hingga suatu saat salah seorang teman berkata.
"Ku kira kamu saatnya harus berhenti. Ku katakan hanya sekali. Tahu bedanya robot dengan manusia? Robot tak punya hati, sementara manusia punya hati. Hanya itu yang akan kukatakan. Aku yakin kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti. "

Hingga akhirnya, aku terduduk. Menangis sudah. Lepas sudah pengendalian diriku selama ini. Layaknya seorang anak kecil yang kehilangan mainannya.

Aku tak tahu apa yang kupikirkan saat itu. Aku masih mencari jawabannya. Yang jelas, aku hanya ingin mengakhiri semuanya dengan proses yang baik. Toh, semua ini kuawali dengan proses yang baik. kuawali semua ini dengan janji-janji yang baik. Renjana? Iya, aku merindukan semuanya seperti dulu. Tapi, cobalah untuk tidak lari. Cobalah mengambil energi positif dari lingkunganmu. Sekali kau kehilangan energi positif mu maka kejenuhan itu akan datang menerjangmu tanpa ampun."

Yang bisa kulakukan hanyalah diam. Karena aku sendiri juga punya pertanyaan yang saat ini terhempas dibawa oleh hujan.


Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar