Kamis, 14 Januari 2016

History

Kalau boleh memilih, aku akan membiarkan diriku tenggelam pada suatu lautan buku-buku sejarah peradaban Islam, konspirasi, ensiklopedi tentang kota-kota yang ada di dunia. Ada banyak kesenangan dan suatu rasa penasaran yang terus mendera ketika kita tahu, bahwa apa yang kita ketahui selama ini masih sangat sedikit. Ada rasa kekaguman dan bangga, ketika kita tahu bahwa umat Muslim pernah berjaya.
 
Mungkin menyenangkan, ketika kita terbang, mengembara menuju Damaskus. Melihat bagaimana adilnya seorang Khalifah Umar Bin Abdul Aziz. Cucu dari salah seorang khulafaurrasyidin Umar Bin Khattab. Atau melihat salah seorang khalifah dari Dinasti Umayyah membangun masjid dengan Kubah Emas di dekat Masjidil Aqsa.
 
Terbang menuju tempat lain. Menuju tempat permulaan Baitul Hikmah dibangun atas perintah Khalifah Abdullah Al Ma’mun. Menuju negeri asal cerita Aladin bermula. Menuju sebuah kota yang terlebih dahulu terang benderang, teratur, dan penuh dengan keilmuan di zamannya. Sementara, di waktu yang sama, Eropa dilanda kegelapan.
 
Atau melihat keberanian dan kelembutan Salahuddin Al Ayyubi? Pahlawan Islam, merebut Yerussalem dan menunjukkan suatu sisi yang luar biasa. Bagaimana mungkin, ada seorang panglima yang mau merawat musuhnya bahkan mengobatinya? Tapi itulah Salahuddin Al Ayyubi. Ingin terbang ke Yerussalem dan merasakan bagaimana kedamaian pernah bersemi di tempat itu.
 
Terbang menuju tempat lain. Tempat yang menjadi saksi,bahwa beratus-ratus tahun sebuah tembok bediri gagah, tak bisa dijebol, dan menjadi lambang keagungan suatu Imperium akhirnya tunduk pada seorang Pemimpin yang dikatakan sebagai sebaik-baiknya pemipin. Dan pasukannya dikatakan sebagai sebaik-baiknya pasukan. Muhammad Al Fatih membuktikan itu. bahwa ketika keberanian berlandaskan iman yang kuat, akhlak yang baik, niat yang mulia akan membuahkan suatu hasil yang menakjubkan. Meski caranya tak masuk diakal memang. Memindahkan kapal tempur melalui suatu bukit hanya dalam waktu satu malam. Tapi itulah yang terjadi.
 
Atau menjadi saksi supremasi Islam dalam ilmu pengetahuan. Ibnu Sina atau Avicenna, bapak kedokteran. Ibnu Rusyd atau Averroes, bapak renaissance Eropa. Terbang menuju The real city of light. Menyaksikan, lambang kesedihan saat suatu masjid dirubah fungsinya menjadi gereja. Menyaksikan bagaimana mencekamnya ketika Raja Ferdinand dan Ratu Isabella memaksa ribuan umat Muslim merubah keyakinannya.
 
 Atau terbang ke tempat universitas Islam yang usianya ratusan tahun. Al Azhar. Menyaksikan bagaimana sungai Nil telah menjadi saksi sejarah panjang yang telah terjadi.
 
Atau mengembara ke suatu negeri yang telah disebutkan dalam suatu hadist. China, saksi bisu bagaimana seorang Laksamana Muslim yang bijaksana menyebarkan Islam.
 
Dan tak akan pernah terlepas pada dua tempat yang selalu bercahaya. Mekkah Al Mukaromah dan Madinatun Nabawi. Dua tempat dimana semua perjalanan ini dimulai. Dua tempat yang sangat istimewa. Dua tempat yang mempunyai sejarah sangat impresif.
 
Raga ini belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke tempat-tempat di atas. Tetapi, selalu ada keinginan dan rasa yang begitu kuat untuk menjelajahi semua itu. berfikir tentang apa yang sudah terjadi dan bagaimana kedepannya.
 
Sejarah bukan untuk dilupakan, tetapi mengajarkan apa yang bisa kita ambil di masa depan.

0 komentar:

Posting Komentar