Kamis, 14 Januari 2016

Amanah dan Komitmen

Secangkir kopi di tengah malam mungkin sudah jadi bagian dari sebuah rutinitas yang tak berkesudahan. Rutinitas yang oleh sebagian orang dianggap sebagai hal yang biasa, namun oleh sebagian yang lain dianggap hal yang melelahkan. Membagi waktu untuk bermacam-macam peran itu bukanlah hal yang mudah. Ibaratnya 24 jam itu adalah waktu yang kurang. Lebih spesifik lagi bagi manusia di sekitaran umur 19-23 tahunan yang sedang dituntut dan menuntut diri untuk menjadi seorang yang katanya “Mahasiswa”. Well. Disadari atau tidak peran mahasiswa bukanlah hanya sebagai kumpulan orang yang menuntut ilmu. Tapi juga tentang peran yang lain. Dalam saat yang sama mahasiswa dituntut sebagai seorang “agent of change”. Ini yang selalu didengungkan di dalam setiap masa OSPEK berlangsung. Mahasiswa adalah mata hati rakyat. Dan akhirnya, ketika masa Open Recruitment dari sebuah Organisasi Mahasiswa, ramailah mahasiswa baru untuk mendaftar.
 
Satu pertanyaan yang selalu ada adalah tentang komitmen. Apa komitmen mu di organisasi ini? Begitulah kiranya. Well. Mungkin jawabannya hampir sama dan saya pun menjawab hal ini juga. Bahwa kami akan selalu berkomitmen untuk selalu berkontribusi dan memberikan yang terbaik untuk organisasi ini. Dan untuk orang-orang yang terpilih akhirnya tibalah masa untuk membuktikan komitmen mereka. Saya pribadi, akan memegang satu kalimat  penting yang selalu ketika akhir wawancara disebutkan: “ Bahwa amanah tak akan salah memilih”. Ya, amanah tak akan salah memilih. Hanya saja bagaimana sang pemilik amanah itu untuk menjalankannya. Menjalankan sesuatu yang bahkan Imam Al Ghazali pun mengatakan sebagai sesuatu yang sangat berat.
 
Kembali lagi tentang peran mahasiswa dan komitmen. Ada beberapa teman yang mempunyai organisasi lebih dari satu organisasi. Sementara di sisi yang lain, ada beberapa teman yang sama sekali ta mengikuti organisasi. Mana yang lebih baik? Tergantung substansinya. Untuk orang-orang yang senang dan ingin mengembangkan diri, mencari relasi, pengalaman, dan jati diri, tentulah organisasi jadi salah satu pilihan. Tapi kita coba lihat sisi lain. Ada beberapa teman mahasiswa yang memilih untuk menarik diri dari dunia keorganisasian. Well, mereka punya alasannya sendiri. Bekerja, menjaga orang tua, ingin fokus kuliah, dll. Semua itu selalu ada kelebihan dan kelemahan. Kembali lagi tentang bagaimana kita mencoba untuk selalu berkomitmen dalam melakukan sesuatu. Mungkin ada kalanya bagi teman-teman yang menarik diri dari organisasi untuk bisa merasakan bagaimana atomosfir dari sebuah organisasi mahasiswa. Pun bagi teman –teman yang sedang diamanahi sebagai salah satu pemeran dalam organisasi mahasiswa untuk selalu berkomitmen. Tak hanya berkomitmen pada organisasinya, tapi  juga pada kuliahnya. Aktivis itu juga bisa berprestasi.

Dan diatas itu semua, ada komitmen besar pada diri seseorang. Ada amanah besar yang selalu menunggu. Komitmen pada orang tua. Amanah sebagai seorang khalifah di muka bumi. Dan komitmen sebagai seorang hamba Allah yang taat.

-Miftah_N-

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar